Bektio Pamungkas Tio suka menulis, suka melakukan apapun yang penting bermanfaat

Tujuan Pembelajaran

5 min read

Tingkatan dan Taksonomi Tujuan Pembelajaran

Dalam pembelajaran, sebuah tujuan merupakan faktor paling penting untuk dipikirkan dan ditetapkan. Ini dikarenakan setiap aktivitas pembelajaran pasti pangkal dari diperolehnya sebuah hasil adalah tujuan pembelajaran itu sendiri.

Tujuan pembelajaran sendiri pertama kali diungkapkan oleh psikolog Amerika lulusan Harvard yakni B.F. Skinner di tahun 1949 yang merupakan implementasi dari behavioral science atau ilmu perilaku yang bertujuan untuk mengmebangkan kualitas pembelajaran

Pengertian Tujuan Pembelajaran

Terdapat berbagai penjelasan tentang apa itu tujuan pembelajaran berdasarkan ahli. Dari berbagai penjelasan, pengertian, pendapat tersebut memiliki kesamaan maupun perbedaan.

  • Seperti halnya apa yang diungkapkan oleh David E. Kapel (1981), Kemp (1977) Edward L. Dejnozka bahwa tujuan pembelajaran merupakan sebuah deklarasi yang detail yang dikemukakan dalam sikap dan dimanifestasikan dalam bentuk tulisan agar bisa dicerna dengan baik dan bisa menjadi hasil yang diinginkan.
  • Sedangkan berdasarkan pengertian yang diungkapkan Robert F. Mager (1962), tujuan pembelajaran adalah sikap yang akan meraih suatu kompetensi yang telah dicanangkan. Sikap  yang dimaksud adalah fakta yang abstrak maupun konkret.
  • Sementara pada pengertian selanjutnya diungkapkan oleh Henry Ellington (1984) dan Fred Percival tujuan pembelajaran yakni suatu deklarasi yang jelas dan memperlihatkan penampilan atau skill dari siswa yang bisa diraih dalam aktivitas pembelajaran.

Selanjutnya disempurnakan oleh Robert Mager yang diperkenalkan pada buku Preparing Instructional Objective di tahun 1961. Langkah berikutnya tujuan pembelajaran diimplementasikan secara global di tahun 1971 termasuk di Indonesia.

Manfaat Tujuan Pembelajaran

Dengan adanya tujuan pembelajaran, sebuah aktivitas belajar jadi lebih jelas dan tertuju dengan efektif, selain itu hasil dari pembelajaran juga lebih optimal. Berikut merupakan apa yang akan didapat dan keuntungan dengan adanya tujuan pembelajaran:

  • Manajemen waktu bisa digunakan dengan maksimal sehingga pembelajaran bisa lebih efisien.
  • Fokus materi bisa dipresentasikan secara proporsional, ini menjadikan porsi materi tidak ada yang dibahas terlalu sedikit atau terlalu banyak.
  • Guru lebih leluasa membuat keputusan berapa materi yang akan dipresentasikan dalam jam pembelajaran.
  • Guru mampu memutuskan rangkaian dan urutan mana yang akurat dalam pembelajaran. Ini akan membuat siswa bisa lebih leluasa dalam mempelajari suatu pelajaran karena peletakan materi .
  • Guru dapat lebih leluasa dalam membuat strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan keadaan setiap kelas.
  • Pendidik bisa lebih leluasa dalam mengatur berbagai kebutuhan alat peraga untuk kepentingan pembelajaran.
  • Guru dapat leluasa dalam menakar dan mengukur kemampuan dan kesuksesan siswa saat pembelajaran.
  • Guru optimis bahwa tingkat kesuksesan siswa bisa lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran tanpa tujuan.

Taksonomi Tujuan Pembelajaran

Dalam tujuan pembelajaran terdapat sebuah taksonomi yang diutarakan oleh D. Krathwohl dan Benyamin S. Bloom (1964). Taksonomi tersebut berada pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor, berikut merupakan penguraiannya:

Ranah Kognitif

Pada ranah ini tujuan pembelajaran membicarakan tentang aktivitas intelektual yang bermuara dari level pengetahuan hingga ke level atas yaitu evaluasi. Pada ranah kognitif ini terdapat enam level. Berikut urutan level kognitif yang perlu diketahui

Level Knowledge (Pengetahuan)

Pada bagian ini siswa akan dituntut untuk bisa mengingat atau menghafal suatu materi (pelajaran). Selain itu siswa akan ditantang untuk bisa menjelaskan kembali pengetahuan yang sudah diterima sebelumnya.

Contoh:

Peserta didik bisa melafalkan kembali ayat-ayat Pancasila dengan benar.

Level Comprehension (Pemahaman)

Pada level ini siswa diharuskan untuk bisa melakukan tafsiran, mengartikan, menerjemahkan dan menjelaskan dengan cara mereka sendiri mengenai pengetahuan yang sudah pernah diterima sebelumnya.

Contoh: 

Peserta didik bisa menjelaskan dengan maknanya sendiri tentang apa yang terkandung dalam tiap ayat Pancasila

Level Application (Penerapan)

Bila dijelaskan penerapan merupakan menguji keahlian siswa dalam menerapkan pengetahuan untuk tujuan menyelesaikan masalah yang ada dalam soal maupun kehidupan nyata.

Contoh: 

Peserta didik bisa memilih sila mana yang bisa diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari yang sesuai.

Level Analysis (Analisis)

Pada analisis ini bisa dijelaskan bahwa kemampuan siswa dalam mempraktekan segala pengetahuan yang diraih untuk membuat solusi dari kehidupan sehari hari.

Contoh: 

Peserta didik bisa mengelola informasi dan perilaku disekitar kehidupannya yang sesuai dengan Pancasila atau tidak.

Level Synthesis (Sintesis)

Sintetis adalah keahlian siswa untuk bisa menghubungkan dan memadukan berbagai komponen dan aspek dari pengetahuan untuk dijadikan sebuah pengetahuan baru.

Contoh:

Peserta didik bisa membuat contoh perbuatan, sikap, perilaku yang sesuai dengan Pancasila.

Level Evaluation (Evaluasi)

Evaluasi merupakan keahlian siswa untuk menciptakan prediksi atau keputusan dari sebuah persoalan atau pengetahuan yang telah dipunyai.

Contoh:

Siswa bisa mengukur apakah segala perilakunya selama ini sudah merupakan hal yang sesuai dengan Pancasila.

Selain pada ranah kognitif, tujuan pembelajaran juga menyasar pada aspek lain dimana pada mata pelajaran tertentu dibutuhkan strategi lain agar bisa lebih tepat guna, diantaranya adalah ranah afektif dan psikomotor. Berikut penjelasannya.

Ranah Afektif (Sikap dan Perilaku)

Pada ranah ini merupakan yang memiliki hubungan dengan perilaku, minat, penghargaan dan adaptasi mental sosial. Pada ranah afeksi terdapat lima level berikut adalah level afektif beserta penjelasannya.

Kemauan Menerima

Pada level ini adalah kemauan untuk bisa mengamati suatu fenomena mampu menerima secara lapang seperti kemauan menerima pendapat orang lain. Selain itu siswa juga bisa meningkatkan kemauan untuk membaca buku, berteman dengan latar belakang yang berbeda.

Kemauan Menanggapi

Pada level ini siswa diamati dalam aktivitas ketika ikut serta secara aktif dalam acara tertentu, yang lebih condong pada perilaku inisiatif. Contohnya adalah pada partisipasi dalam menyelesaikan tugas secara kelompok, mematuhi aturan, ikut serta dalam diskusi dan menolong sesama.

Berkeyakinan

Pada level ini adalah tanggapan siswa dalam penerimaan mereka terhadap sistem nilai tertentu dalam diri personal masing masing. Ini bisa dilihat ketika siswa memperlihatkan keyakinan pada suatu kepercayaan (agama), pemahaman pada suatu hal, sikap keyakinan pada sebuah kepercayaan dalam lingkungan masyarakat.

Penerapan Karya

Pada level ini merupakan sikap siswa pada pengakuan mereka pada sistem nilai yang bersifat subyektif pada sebuah karya. Contohnya adalah kesadaran pada hak dan kewajiban, mampu berkomitmen tentang apa yang telah direncanakan, bisa menerima kekurang pada diri dan mengetahui kapasitas dalam suatu hal yang bisa dilakukan dan yang tidak bisa dilakukan.

Ketekunan dan Ketelitian

Level ini merupakan level paling atas dari ranah afeksi. Pada ranah ini siswa yang telah mempunyai sistem nilai akan bisa berkomitmen tentang apa yang sudah diyakini tentang sistem nilai tersebut. Ini bisa terlihat bila siswa telah bisa berperilaku objektif pada setiap hal.

Ranah Psikomotor

Pada ranah ini tujuan pembelajaran yang berhubungan dengan skill atau keterampilan yang memiliki karakter konkret, fisik atau motorik. Seperti telah diketahui ranah ini juga memiliki levelnya mulai dari yang rendah hingga level tinggi. Berikut beberapa diantaranya beserta penjelasan.

Persepsi

Level ini merupakan hal yang berhubungan dengan cara pemakaian indra saat melaksanakan suatu aktivitas. Contohnya adalah saat mengetahui adanya suara fals pada instrumen, ketidakberesan pada sebuah mesin motor dan bisa menyesuaikan tarian dengan musik.

Kesiapan

Level kesiapan adalah hal yang berkaitan dengan kesanggupan dalam melaksanakan sesuatu hal. Kesiapan tersebut mencakup pada kesiapan fisik, kesiapan pikiran, kesiapan mental, kesiapan perasaan ketika akan melakukan sebuah aktivitas.

Mekanisme

Level mekanisme adalah aktivitas yang berhubungan dengan performa respon dalam sebuah habit (kebiasaan). Ini bisa dilihat saat seseorang bisa menampilkan performa pada bidang keahlian tertentu yang bersifat spesifik. Contohnya adalah kemahiran dalam menenun, menjahit dan menari.

Respons Terbimbing

Level ini berkaitan tentang cara menduplikasi atau meniru suatu aksi dari orang lain. Dan melakukan aksi tersebut secara identik.

Kemahiran

Tingkatan ini berhubungan dengan keterampilan pada kinerja gerakan motorik. Ciri ciri dari kemahiran yang bagus adalah dalam kinerjanya kemahiran akan berlangsung cepat dan optimal. Ini bisa dilihat saat seseorang melakukan keterampilan mengetik pada keyboard komputer.

Adaptasi

Level ini berkaitan dengan skill yang telah ada dan berkembang pada masing masing personal. Sehingga individu tersebut bisa mentransformasikan setiap gerakan yang ada dengan keadaan atau kondisi tertentu. Ini bisa dilihat pada individu yang bermain bulu tangkis, mereka bisa beradaptasi setiap gerakan yang ada untuk mengantisipasi lawan.

Originasi

Level ini berhubungan dengan pada metode untuk membuat gerakan baru yang diadaptasi sesuai pada kondisi tertentu. Level organisasi kerap kali bisa dipakai ketika seseorang telah mempunyai level skill yang tinggi. Contoh yang bisa dilihat pada keterampilan ini adalah pada seseorang yang bisa membuat komposisi musik, mode pakaian dan menciptakan suatu terobosan.

Lihat juga juga: Taksonomi Bloom

Format Penulisan Tujuan Pembelajaran

Saat akan menyusun sebuah tujuan pembelajaran, hal penting yang harus dilakukan adalah memperhatikan tata bahasa. Ini dikarenakan konsep dari aktivitas berpikir akan tertuang dengan baik dengan sebuah ide dalam sebuah tulisan tata bahasa yang baik.

Terdapat beberapa komponen penting dalam menulis format tujuan pembelajaran. Berikut diantaranya:

  1. Mengungkapkan sesuatu yang memang harus dilaksanakan peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung dan memberikan pemberitahuan berupa apa saja keterampilan atau kemampuan yang harus dikuasainya.
  2. Adanya panduan berupa masalah atau hambatan yang bisa muncul saat pembelajaran dilaksanakan
  3. Adanya panduan yang jelas tentang parameter rendah dan tinggi suatu tujuan pembelajaran diraih.

Berlandaskan apa yang telah dijelaskan diatas mengenai penyusunan format tujuan belajar yang baik. Maka guru bisa mengingat penyusunan berupa susunan format ABCD, berikut maksudnya:

Format Tujuan Belajar

Berikutnya adalah perilaku yang bisa dinilai, maka harus ada upaya yang harus dilakukan yakni menghindari kata yang tidak operasional dan melaksanakan kata yang operasional berikut adalah kata yang direkomendasikan

Kata Kerja Operasional dan Non Operasional Dalam Tujuan Pembelajaran

Kata Kerja yang Operasional Tujuan Belajar

Dengan adanya kata kerja non operasional dan operasional ini bisa amat signifikan dalam aktivitas penilaian.

Bila kata kerja operasional diciptakan, akan berdampak pada kemudahan guru dalam menilai aktivitas non operasional. Karena dengan ini bisa meringankan beban guru. Sehingga guru bisa lebih fokus dalam menilai kesuksesan tujuan pembelajaran.

Bektio Pamungkas Tio suka menulis, suka melakukan apapun yang penting bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *