Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Model Pembelajaran Talking Stick

1 min read

Model Pembelajaran Talking Stick

Pada zaman dahulu saat ada musyawarah atau rapat antar suku. Terdapat metode tongkat berbicara. Yakn sebuah metode dimana seorang yang memegang tongkat pada giliran setelah berpindah-pindah menggunakan nyanyian akan mendapatkan hak untuk berbicara mengungkapkan suatu pendapat.

Hal tersebutlah yang menjadi inspirasi dari model pembelajaran talking stick.

Pengertian

Model pembelajaran talking stick adalah pembelajaran dimana dalam aktivitasnya menggunakan media stick (tongkat). Suatu individu atau grup yang lebih awal memegang tongkat harus menjawab yang diajukan oleh guru.

Aktivitas ini dilakukan setelah materi utama disampaikan. Karena pembelajaran ini bersifat aktif dan kolaboratif maka aktivitas ini termasuk dalam model pembelajaran kooperatif.

Pada sesi implementasi talking stick guru bisa membagi kelas dalam bentuk grup belajar. Grup ini terdiri dari 4 hingga 6 anggota yang berbeda latar belakangnya. Grup belajar ini juga harus dipertimbangkan berdasarkan teman akrab, hobi, selera. Karena nantinya bisa menjadi penentuan pada tahap selanjutnya yaitu mempresentasikan jawaban dan kesimpulan.

Langkah-langkah atau Sintaks Model Pembelajaran Talking Stick

Langkah-langkah atau Sintaks Model Pembelajaran Talking Stick

  1. Pengajar atau guru membuat grup belajar yang terdapat 4 hingga 6 anggota.
  2. Guru menyediakan stick atau tongkat yang memiliki ukuran panjang 15 cm atau lebih.
  3. Pengajar akan mengutarakan materi utama dan selanjutnya akan memberi waktu kepada grup belajar untuk mempersiapkan seperti meneliti dan mendalami materi yang telah disampaikan.
  4. Siswa akan membahas berbagai persoalan yang ada pada materi utama.
  5. Sesudah grup belajar mendalami dan meneliti setiap detail yang ada pada materi. Guru akan memberi tanda untuk menyetop segala aktivitas pendalaman materi tersebut.
  6. Pada sesi ini guru akan memakai stick atau tongkat yang nantinya diberikan ke salah satu anggota grup belajar. Selanjutnya guru menyanyikan lagu dan tongkat bisa digilir secara bergantian kepada anggota grup. Dan  yang paling terakhir memegang tongkat akan menjawab pertanyaan dari guru. Hal tersebut terus diulang hingga sebagian besar siswa mendapat giliran.
  7. Setelah sesi di sebelumnya selesai guru akan membuat kesimpulan.
  8. Pengajar selanjutnya melaksanakan evaluasi dan refleksi dari apa yang telah dilakukan dalam pembelajaran.
  9. Selanjutnya penutup disampaikan oleh guru.

Kelebihan dan Kekurangan

Berikut merupakan apa saja keuntungan dan kelemahan saat metode talking stick diterapkan. Hal ini merupakan penuturan dari Sri Widayati.

Kelebihan

  1. Bisa membuat kondisi ruang kelas ceria dan bersemangat. Dengan kondisi tersebut siswa lebih bisa mencerna materi dengan baik dan rasa bosan terhadap suatu materi pelajaran dapat teratasi.
  2. Dalam penerapannya siswa bisa mempelajari dua pelajaran sekaligus yakni menyanyikan lagu dan mata pelajaran. Tentu guru bisa memilih lagu yang bisa meningkatkan motivasi dan cinta tanah air.
  3. Siswa bisa terdorong untuk lebih inovatif dan variatif dalam menyanyikan berbagai lagu.

Kekurangan

  1. Talking stick akan tidak lancar bila siswa kurang bisa bernyanyi.
  2. Bila hukuman kepada siswa kurang sesuai maka aktivitas pembelajaran bisa terganggu.
  3. Aktivitas model pembelajaran ini relatif memakan banyak waktu.

Kesimpulan

Dalam penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa model talking stick dapat memicu kesiapan dan adaptasi seorang siswa dalam aktivitas pembelajaran. Ini karena setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menjawab sewaktu-waktu bila tongkat berada di genggamannya.

Aktivitas berantai memindahkan tongkat dengan bernyanyi ini juga memiliki manfaat agar siswa bisa lebih ceria dan menghilangkan ketegangan dalam belajar.

Secara garis besar model pembelajaran talking stick ini sangat bagus sebagai penguatan dalam materi. Karena model yang juga bisa dibilang permainan ini bisa mengatasi kejenuhan siswa dalam belajar.

Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *