Ginanjar Adhi Anjar adalah penulis di tripven dengan spesialis marketing dan bahasa dalam pembelajaran.

Teaching Factory

3 min read

Teaching Factory

Setelah membahas beberapa model pembelajaran yang cenderung umum. Pada artikel ini akan dibahas sebuah model pembelajaran yang khusus. Khusus karena tidak semua jenjang bisa melaksanakannya.

Pembelajaran tersebut adalah TEFA atau teaching factory, merupakan pembelajaran yang di khususkan untuk tipe kejuruan atau SMK. Di mana di dalamnya terdapat banyak praktek untuk memperoleh keterampilan spesifik.

Pengertian

Pembelajaran teaching factory adalah metode pembelajaran berpusat produksi atau jasa yang menyelaraskan pengajaran dan pelatihan (praktek) yang berdasar pada prosedur dan standar yang telah ditetapkan di dunia industri, serta disesuaikan dengan situasi sekarang ini (modern). Teaching factory diterapkan di lingkungan sekolah kejuruan atau SMK.

Manfaat dari pembelajan TEFA adalah agar kebutuhan SDM pada industri bisa terpenuhi (SDM berkompetensi), maka dari itu penerapan pembelajaran teaching factory mengharuskan stakeholder yang ada di industri ikut terlibat sehingga penilaian kapabilitas/kemampuan hasil pendidikan bisa sesuai dengan standar yang berlaku.

Selain itu model pembelajaran ini harus didukung pemerintah dengan cara menetapkan standar tertentu dengan membuat strategi, regulasi, pelaksanaan dan juga evaluasi yang berkesinambungan. Ini bertujuan agar kualitas dari SDM yang telah melaksanakan teaching factory bisa terjaga dan meningkat.

Model Pelaksanaan

Penerapan TEFA teaching factory ada empat model, di mana model tersebut berupa panduan yang berasal dari TEFA Direktorat PMK. Panduan tersebut dimanfaatkan sebagai instrumen pemetaan SMK, Berikut modelnya:

  • Model satu, Dual sistem yang bisa dilaksanakan dalam praktik kerja lapangan, alur belajar yang berlandaskan enterprise based training atau pembelajaran berbasis dunia kerja.
  • Model dua, CBT competency based training bisa juga disebut praktik berbasis kompetensi, adalah model yang memfokuskan pada penajaman pengetahuan dan skill siswa yang disesuaikan dengan keperluan lapangan pekerjaan. Pada pembelajaran ini siswa dipersiapkan untuk bisa memperoleh pengetahuan dan skill yang diperlukan dalam setiap bagian kompetensi yang dipelajari.
  • Model tiga, PBET production based education and training adalah model belajar berbasis produksi. Kemampuan yang sudah dipunyai siswa harus ditingkatkan dan dikembangkan skillnya agar bisa menciptakan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan industri.
  • Model empat, Teaching factory merupakan model yang berlandaskan pada jasa dan produk dengan kerjasama antara industri dan sekolah untuk menciptakan siswa (lulusan) yang unggul sesuai dengan kebutuhan pasar.

Langkah-langkah atau Sintaks Teaching Factory

Apa itu Pembelajaran Teaching Factory atau TEFA

Sintaks Opsi 1

Berdasarkan penjelasan yang telah dirangkum, berikut merupakan langkah-langkah atau sintaks pembelajaran teaching factory. Bersumber pada San Luis Obispo USA ( Sema E. Alptekin : 2001):

    • Mendesain produk, dalam sesi ini siswa akan mengembangkan atau menciptakan produk baru berupa kebutuhan harian, mendesain sebuah gambar, membuat program pada komputer dsb.
    • Merancang prototype, merancang sebuah produk contoh atau tester yang sesuai dengan spesifikasi produk.
    • Mendemonstrasikan dan persetujuan prototype, siswa akan melaksanakan demonstrasi prototype yang sesuai dengan informasi pada spesifikasi. Ini bertujuan agar produk prototype yang diciptakan bisa mendapatkan persetujuan dan bisa menjadi produk yang siap produksi.
    • Menciptakan produk massal, siswa membuat desain schedule dan deadline dari produk, agar bisa mencapai tenggat waktu yang telah ditetapkan.

Sintaks Opsi 2

Pengembangan Sintaks

Dan berikut merupakan hasil pengembangan langkah-langkah atau sintaks pembelajaran teaching factory yang berlandaskan pada karya Dadang Hidayat (2011).

    • Menerima order, dalam sesi ini siswa memperoleh order dan bisa berhubungan langsung dengan pembeli tentang jasa atau produk yang diinginkan. Pada sesi ini siswa diharuskan untuk berkomunikasi dengan baik, santun, tegas serta menulis segala masukan positif maupun negatif
    • Menganalisa order, dalam tahap ini siswa harus bisa menganalisa segala bentuk pesanan yang ada, baik berupa produk atau jasa sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, bahan, harga dan deadline pengerjaan.
    • Kesiapan dalam mengerjakan order, siswa memberikan kejelasan sikap dalam melaksanakan pekerjaan (order) yang telah dianalisis. Kapabilitas siswa akan diuji disini, sehingga siswa harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
    • Mengerjakan order, pada sesi ini siswa melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan pada spesifikasi produk dan hasil analisa. Siswa dituntut untuk bisa melaksanakan pekerjaan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Siswa dituntut untuk bekerja sesuai dengan aturan agar menghasilkan produk atau jasa yang sesuai dengan spesifikasi dan hasil analisa.
    • Evaluasi produk atau jasa. Melaksanakan evaluasi hasil produk atau jasa yang telah dihasilkan dan membandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sesuai dengan spesifikasi dan analisa yang telah ditetapkan.
    • Mengirim order, siswa mengirim produk atau jasa setelah produk telah melalui tahap evaluasi yang matang sehingga pelanggan (konsumen) akan puas.

Karakteristik dan Tujuan

Berikut merupakan ciri atau karakter dari pembelajaran teaching factory pada pendidikan kejuruan atau SMK:

  1. Siswa akan mampu mempersiapkan skill agar bisa bersaing di dunia kerja.
  2. Berlandaskan keperluan yang ada di dunia kerja atau “demand-market-driven
  3. Sesuai dengan kemahiran dalam standar yang diperlukan di dunia kerja.
  4. Pembelajaran berkaitan dengan lapangan pekerjaan.
  5. Bisa fleksibel dan responsif dengan tantangan teknologi yang berkembang.
  6. Membutuhkan dana dan pelaksanaan yang lebih besar dari pendidikan biasa.
  7. Siswa bisa memperoleh peluang untuk mengasah skill tertentu dan bisa memilih karir yang sesuai.

Berikut merupakan tujuan yang sesuai dengan pembelajaran teaching factory:

  • Bisa mempersiapkan para profesional yang unggul. Dengan adanya konsep manufaktur terkini maka pembelajaran TEFA bisa lebih bersaing dengan dunia industri.
  • Mengembangkan penerapan kurikulum SMK yang berbasis pada konsep manufaktur terkini.
  • Memberikan pemecahan masalah yang kompeten kepada lingkungan teknologi yang dinamis (terutama kontribusi pada industri).
  • Memperoleh pengiriman data dan teknologi dari industri untuk dikembangkan di sekolah, di mana siswa dan guru bisa memakainya dalam pembelajaran.

Kesimpulan

Dengan adanya teaching factory kerjasama antara industri dengan SMK bisa terjalin. Ini membuat kesenjangan atau gap antara SDM dengan industri bisa teratasi. Hal tersebut bisa mendatangkan kerjasama yang berkesinambungan sehingga bisa saling menguntungkan.

Tujuan utama dari teaching factory adalah agar karakter siswa bisa terbentuk mulai dari etos kerja, tanggung jawab, kerjasama, disiplin dan jujur dalam sebuah industri. Jadi pembelajaran ini tidak hanya untuk memenuhi kompetensi saja.

Referensi

Pembelajaran TEFA
The Teaching Factory: A Manufacturing Education Paradigm, https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212827116311623

Ginanjar Adhi Anjar adalah penulis di tripven dengan spesialis marketing dan bahasa dalam pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *