Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Teori Belajar Konstruktivistik

6 min read

Teori Belajar Konstruktivistik

Teori konstruktivisme merupakan ide yang sudah lama, namun karena efektif dan adaptif dalam pembelajaran perangkat teori ini bisa bertahan hingga saat ini. Teori yang mengedepankan pengumpulan pengalaman ini bisa membuat peserta didik bisa lebih fleksibel dalam kehidupan.

Simak ulasan mendalam teori belajar konstruktivistik, sebuah teori yang bisa membuat peserta didik lebih dinamis dalam menjalani kehidupan.

Pengertian

Teori belajar konstruktivistik adalah metode yang memfokuskan pada proses atau aktivitas pembelajaran yang mendalami pengetahuan secara bebas agar siswa bisa memaknai pengetahuan baru sesuai dengan pengalamannya.

Konstruktivisme maksudnya adalah penataan, pembangunan atau penyusunan pengetahuan. Jadi manusia belajar dari pengalaman kemudian mendapat pengetahuan lalu di tata atau disusun, itulah bekal manusia untuk menjalani kehidupan.

Pembangunan pengetahuan berdasarkan teori konstruktivistik adalah bahwa subjek harus proaktif untuk membuat susunan kognitif dengan cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Susunan kognitif tersebut berfungsi untuk menciptakan definisi realitasnya sendiri sesuai dengan pengalaman yang didapat. Serta dengan interaksi kognitif tersebut akan memungkinkan adanya pembangunan pengetahuan baru.

Susunan kognitif harus sering disesuaikan berlandaskan apa yang terjadi di lingkungan. Agar manusia atau siswa bisa fleksibel dalam setiap ada hal yang baru dalam perkembangan zaman. Aktivitas adaptasi atau penyesuaian ini dilakukan secara berkesinambungan agar manusia/siswa bisa lebih hidup dalam menjalani hidup.

Ikuti juga: Teori Belajar

Pengertian Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget

Teori Belajar Konstruktivistik atau Konstruktivisme

Seorang filosof pendidikan Jean Piaget mengungkapkan bahwa teori belajar ini memfokuskan pada proses dalam menciptakan sebuah teori dan pengetahuan yang disusun oleh siswa berdasarkan kehidupan nyata. Sementara guru bertugas sebagai pembimbing dan fasilitator.

Dalam perkembangan pendidikan tentang teori konstruktivistik paling baru menjelaskan bahwa teori kognitif Piaget yang mengungkapkan bahwa sebuah pengetahuan yang disusun oleh pikiran siswa adalah sebuah aktivitas percampuran yang berlandaskan skemata yang disusun olehnya.

Berikut merupakan penyusunan sebuah pengetahuan yang berlandaskan pada penjelasan Jean Piaget:

Skemata

Adalah himpunan konsep yang dipakai saat berhubungan dengan lingkungan. Sedari anak-anak, siswa telah mempunyai susunan kognitif dengan nama skema. Skema ini ada karena adanya pengalaman yang terakumulasi dalam hidupnya.

Contohnya adalah saat mereka sering bermain dengan mainan sepeda motor dan mobil. Secara tidak langsung mereka akan mengetahui letak persamaan dan perbedaan dari keduanya. Mobil mempunyai roda empat dan motor mempunyai roda dua.

Dan karena akumulasi pengalaman tersebut susunan kognitif akan tercipta tentang mesin beroda empat dan dua. Saat anak sudah menginjak umur yang lebih tua maka mereka akan semakin paham dengan skema yang dipunyainya. Aktivitas pemahaman atas skema bisa sempurna dengan adanya aktivitas asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi

Adalah aktivitas kognitif berupa peleburan/penggabungan secara terintegrasi tentang konsep, sudut pandang dan pengalaman baru ke ranah skema atau pola yang telah ada dalam pikiran.

Asimilasi adalah aktivitas kognitif berupa pengkategorian sebuah fenomena atau stimulasi baru pada skema yang sudah ada. Asimilasi tidak dapat merubah skema yang telah ada dalam pikiran.

Lebih lanjut Asimilasi merupakan aktivitas seorang individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan atau pandangan baru. Fungsi utama dari aktivitas ini adalah agar individu bisa berkembang.

Akomodasi

Ketika bertemu pengalaman atau stimulus baru, manusia cenderung tidak bisa melakukan asimilasi terhadap stimulus baru dengan skemata yang sudah dimiliki. Stimulus baru tersebut memiliki kemungkinan tidak sesuai dengan skema yang sudah dimiliki.

Karena hal tersebut manusia akan melakukan akomodasi. Akomodasi dilakukan agar skema baru bisa terbentuk dan bisa sesuai dengan skema yang telah ada dan juga bisa memodifikasi skema sehingga bisa sesuai dengan stimulus yang baru.

Ekuilibrium

Merupakan ekuilibrasi/ekuilibrium (keseimbangan) dari asimilasi dan akomodasi. Sementara diskuilibrasi atau disequilibrate merupakan kondisi tidak seimbang antara akomodasi dan asimilasi. Keseimbangan atau ekuilibrium bisa bermanfaat agar individu bisa menggabungkan susunan kognitif dalam dengan pengalaman luarnya.

Tujuan Teori Belajar Konstruktivistik

Berikut merupakan tujuannya:

  • Siswa bisa terdorong dan sadar bahwa belajar merupakan kewajiban untuk dirinya sendiri.
  • Peserta didik akan lebih mampu dan peka  untuk mengetahui masalah yang ada disekitar dan bisa mencari solusi yang harus dilakukan.
  • Siswa akan dapat menemukan pertanyaan atas persoalan yang ada.
  • Peserta didik bisa lebih terbantu dalam meningkatkan pemahaman dan pengertian tentang sebuah konsep secara detail.
  • Siswa berkembang dan mampu untuk menjadi seorang pemikir yang independen.
  • Siswa lebih sadar tentang pentingnya proses belajar dan bagaimana cara belajar.

Esensi dari pembelajaran konstruktivistik yang berdasarkan dari pernyataan Brooks & Brooks mengungkapkan bahwa sejatinya pengetahuan itu bersifat sementara, tidak pasti, selalu berubah (dinamis) dan juga tidak objektif.

Belajar bila dipandang dari pembangunan pengetahuan adalah suatu pengalaman empiris, kegiatan kerjasama dan evaluasi. Sedangkan mengajar adalah memelihara lingkungan agar peserta didik bisa terdorong untuk bisa mendalami hakikat dan bisa sadar akan ketidak pastian.

Dengan fondasi seperti di atas maka peserta didik akan mempunyai penguasaan dan perspektif yang luas terhadap pengetahuan yang didapat dari pengalaman untuk ditafsirkan.

Pada teori ini memfokuskan pada perkembangan sebuah konsep dalam definisi yang dalam, pengetahuan dengan fondasi yang kuat dengan peran aktif siswa.

Bila siswa tidak proaktif dalam mengkonstruksi pengetahuan, walaupun mereka sudah memiliki umur yang matang, tetap saja pengetahuan tidak berkembang didalam dirinya. Sebab pengetahuan bisa berkembang dan berguna bila pengetahuan bisa bermanfaat dan bisa untuk menemukan solusi atas kejadian atau persoalan yang ada di sekitar.

Sebuah pengetahuan tidak bisa hanya disampaikan begitu saja tetapi harus ditafsirkan secara independen oleh setiap peserta didik. Selain itu pengetahuan juga bukan barang yang tetap, karena setiap pengetahuan itu bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman.

Elemen dan Prinsip Teori Konstruktivistik

Terdapat banyak prinsip konstruktivisme yang bisa membentuk cara kerja teori ini dan penerapannya bagi siswa. Berikut merupakan berbagai prinsip konstruktivisme dan bagaimana prinsip-prinsip tersebut menyusun keseluruhan sebuah teori.

Pengetahuan itu ditata, disusun atau dibangun. Ini merupakan prinsip dasar konstruktivisme, artinya pengetahuan dibangun berdasar dari pengetahuan lain (terdahulu). Jadi siswa akan mendapat pengetahuan dari guru kemudian digabungkan dengan pengetahuan terdahulu lalu menjadi pengetahuan baru setelah diproses oleh cara berpikir mereka sendiri yang unik. Cara berpikir ini bisa berupa pengalaman, keyakinan, wawasan pengetahuan.

Manusia belajar untuk belajar. Pembelajaran merupakan proses untuk menghubungkan dan melibatkan suatu makna dan sistem makna. Contohnya adalah ketika siswa sedang mempelajari kronologi rangkain peristiwa dalam sejarah, maka disaat yang sama mereka juga sedang mempelajari apa itu arti kronologi. Maksudnya adalah saat kita belajar kita juga akan belajar tentang sesuatu hal yang baru. Jadi setiap hal yang kita pelajari hari ini akan memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang hal-hal lain di masa depan.

Belajar adalah proses aktif. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa akan otomatis membangun makna karena ada masukan sensorik. Ketika belajar, siswa harus melakukan sesuatu untuk belajar. Maka mereka harus terlibat secara langsung dalam pengembangan dan pembelajaran yang mereka lakukan. Jadi pelajar harus terlibat langsung secara aktif untuk diskusi, membaca, beraktivitas dsb.

Belajar merupakan kegiatan sosial. Maksudnya adalah belajar merupakan proses interaksi secara langsung dengan orang lain, seperti guru, keluarga, teman, kenalan yang pasti akan mempengaruhi pembelajaran kita. Pendidik akan lebih berhasil apabila secara sadar dan menyadari bahwa keberhasilan dalam pembelajaran adalah adanya keterlibatan teman dan kegiatan sosial lain dalam pembelajaran. Pendidikan progresif juga mengakui bahwa interaksi sosial merupakan kunci dalam kesuksesan belajar, mereka menggunakan percakapan, interaksi dan aplikasi kelompok untuk membantu siswa dalam mempertahankan pengetahuan dan kesuksesan belajar..

Belajar itu kontekstual. Dalam pembelajaran siswa pasti akan kesulitan apabila mempelajari teori yang terpisah dengan kehidupan nyata (keseharian mereka). Kita belajar dengan cara yang berhubungan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui, apa yang kita yakin dsb. Seringkali hal-hal yang kita ingat merupakan hal-hal yang berkaitan dengan apa yang ada disekitar kita.

Pengetahuan bersifat pribadi. Karena konstruktivisme didasarkan pada pengalaman dan keyakinan diri, maka pengetahuan menjadi ranah pribadi. Maka cara dan hal yang didapat dan dipelajari oleh setiap orang pasti berbeda-beda.

Kunci belajar adalah dengan melibatkan pikiran. Belajar hanya dengan bermodalkan tindakan fisik dan pengalaman belumlah cukup. Dengan melibatkan pikiran, seseorang akan lebih berhasil dalam belajar.

Motivasi adalah kunci belajar. Siswa tidak bisa belajar maksimal jika mereka tidak termotivasi. Guru harus tahu cara untuk memotivasi siswa agar pikiran dan mental mereka aktif dalam membantu mereka untuk bersemangat. Tanpa tekad dan semangat kuat, sulit bagi siswa untuk menjangkau pengetahuan dan pengalaman masa lalu mereka untuk membuat koneksi yang menjadikan sebuah pengetahuan baru.

Agar bisa mengikuti dengan alur dinamis dan tetap bisa fleksibel dan adaptif berikut merupakan elemen penting dari teori konstruktivistik:

  • Terdapat kondisi sosial yang aman.
  • Adanya motivasi agar peserta didik lebih mandiri.
  • Terdapat upaya untuk memperkenalkan pendekatan ilmiah pada peserta didik
  • Siswa bisa memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya.

Sementara itu terdapat poin penting dari prinsip atau pengaruh teori konstruktivistik, yakni:

  • Pengetahuan disusun oleh peserta didik secara mandiri.
  • Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru ke siswa begitu saja, namun harus ada upaya aktif dari siswa untuk memahami dan menalar.
  • Siswa harus proaktif dalam membangun pengetahuan secara konstan, sehingga pikiran mereka akan berkembang.
  • Pada tahap pembangunan pengetahuan guru hanya berperan untuk membimbing agar aktivitas pembangunan pengetahuan bisa berlangsung dengan baik.
  • Menemukan masalah yang sesuai dengan kehidupan siswa.
  • Susunan pembelajaran tentang konsep dan pertanyaan lebih diutamakan.
  • Memperoleh dan memperhatikan setiap buah pikiran yang siswa utarakan.
  • Bisa fleksibel dengan kurikulum agar tanggapan siswa bisa dinilai sesuai dengan konteks zaman.

Contoh Konstruktivisme dalam Pembelajaran Kelas

Penting untuk mengetahui dan mengerti bagaimana guru bisa mengaplikasikan konstruktivisme di dalam pembelajaran kelas, sehingga lingkungan belajar siswa menjadi lebih unik. Pada pembelajaran di kelas konstruktivis, guru akan menciptakan lingkungan yang menyedikan siswa untuk bisa berkolaborasi secara aktif dan bisa terlibat secara aktif dalam pembelajaran sendiri.

Di sini guru lebih menjadi fasilitator daripada instruktur, guru harus bisa mengerti dan memahami pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Kemudian guru harus jeli dalam memasukan pengetahuan baru yang akan disampaikan.

Berikut merupakan contoh penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran:

  • Saling berbagi pengetahuan antara guru dan siswa.
  • Kewenangan bersama antara guru dan siswa.
  • Guru bertindak sebagai pemandu atau fasilitator.
  • Kelompok belajar terdiri dari siswa yang berjumlah sedikit.

Dari banyak area, pembelajaran konstruktivis sangat berbeda dengan pembelajaran normal. Pada pembelajaran ini kelas berfokus pada pertanyaan dan minat siswa. Guru akan membangun apa yang telah dipahami dan diketahui siswa, guru juga berfokus pada pembelajaran interaktif dan berpusat pada siswa, guru berdialog dengan siswa untuk membantu memahami pemahaman mereka sendiri dan siswa akan bekerja dengan kelompok

Selain itu pembelajaran konstruktivis ini juga mengharuskan guru untuk berdialog terbuka dengan siswa mengenai apa yang dibutuhkan siswa untuk menemukan bakat dan minat yang menjadi faktor kunci kesuksesan di masa yang akan datang.

Kesimpulan

Seperti halnya teori kognitif, behavioristik dan humanistik, teori ini mengedepankan perkembangan siswa ke arah yang lebih progresif. Karena sifat kehidupan yang dinamis dan berubah-ubah maka teori Konstruktivistik ini sangat dibutuhkan di kehidupan.

Penerapan pada pembelajaran bisa mengakibatkan siswa bisa lebih independen dalam berpikir sehingga kelak bila sudah akhir masa sekolah mereka bisa mengejar ilmu pengetahuan dengan mudah dan adaptif.

Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Hakikat Pendidikan

Bektio Pamungkas
2 min read

Suku Kata

Bektio Pamungkas
1 min read

One Reply to “Teori Belajar Konstruktivistik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *