Ginanjar Adhi Anjar adalah penulis di tripven dengan spesialis marketing dan bahasa dalam pembelajaran.

Model Pembelajaran STAD

3 min read

Model Pembelajaran STAD

Guru yang merupakan kunci dari pembelajaran dan bertanggung jawab sebagai penyampai materi seorang diri di kelas, pada masa sekarang ini sudah mulai dikurangi intensitas aktivitasnya. Pada masa sekarang ini guru diminta lebih fokus sebagai penyedia sumber materi dan mencari/menemukan potensi bakat siswa yang masih terkubur.

Pada era sekarang, siswa diharuskan untuk berperan aktif dalam aktivitas pembelajaran di ruang kelas. Ini merupakan tindak lanjut agar siswa memiliki karakter yang kuat dan kreatif dalam kehidupan.

Salah satu cara agar siswa bisa berperan aktif adalah dengan meminta mereka untuk bisa memiliki kesadaran dalam menemukan sumber materi belajar. Agar tujuan pembelajaran bisa diperoleh adalah dengan melaksanakan model pembelajaran STAD atau (Students Team Achievement Divisions).

Pengertian

STAD atau Student Team Achievement Divisions adalah model pembelajaran paling mudah dan simpel pada tipe kooperatif. Bila diuraikan dalam bahasa Indonesia STAD, adalah strategi pembelajaran kolaboratif di mana siswa akan membentuk tim atau grup kecil dengan berbagai tingkat kemampuan dan perbedaan latar belakang untuk bekerja sama agar tujuan pembelajaran bisa tercapai.

Dalam prosesnya siswa dibentuk dalam grup belajar yang memiliki anggota 4 hingga 5 orang yang memiliki latar belakang berbeda atau biasa disebut heterogen (berbeda dari mulai beda gender, suku, agama dan faktor pembeda lainnya).

Selanjutnya guru memfasilitasinya dengan presentasi pelajaran dan siswa diminta untuk memahami materi secara serius. Materi yang telah dipresentasikan selanjutnya akan didiskusikan oleh setiap grup sampai dipastikan bahwa setiap anggota memahami isi materi.

Pada sesi berikutnya siswa akan menghadapi kuis, tentu mengenai materi yang telah diberikan oleh guru dan mereka harus mengerjakan secara mandiri. Meskipun dikerjakan secara mandiri, nilai yang didapat dari kuis akan diakumulasikan ke dalam nilai atau poin grup.

Model STAD adalah ruang lingkup pada pembelajaran kooperatif yang amat simpel dan paling mudah untuk dijalankan. Tipe STAD cocok untuk guru yang baru mengenal model pembelajaran kooperatif. Perangkat belajar ini diteliti oleh Robert Slavin dan kelompok belajarnya di Universitas John Hopkin.

Komponen STAD

    • Presentasi kelas
    • Tim
    • Diskusi dan pendalaman materi
    • Kuis
    • Skor peningkatan individu dan akumulasi nilai individu ke grup
    • Penghargaan atau rekognisi tim atau grup dan evaluasi

Langkah atau Sintaks Model Pembelajaran STAD

Sintaks atau tahapan ini didasarkan pada Slavin (Noornia, 1997: 21), terdapat lima elemen pokok untuk memulai langkah atau sintak dari pembelajaran STAD.

Contoh PENERAPAN model PEMBELAJARAN STAD

Presentasi Tujuan dan Motivasi

Penyampaian materi di kelas adalah penjelasan materi yang dilaksanakan guru dengan metode ceramah, di mana guru akan menggunakan lisan dan teks. Ini berpusat pada teori dan konsep pada mata pelajaran yang sedang dilaksanakan.

Membuat Grup Belajar (Teams)

Grup belajar adalah elemen paling urgen dalam model STAD. Grup belajar dituntut untuk proaktif agar setiap anggota bisa berkembang dan memahami materi secara solid. Ini bertujuan agar pada sesi kuis setiap siswa bisa menjawab dengan benar dan berjalan dengan lancar.

Tes dan Kuis

Sesudah melakukan presentasi kelas, Guru akan membentuk grup belajar untuk siswa sebagai sarana untuk pendalaman materi. Selanjutnya siswa akan memasuki sesi kuis secara mandiri (individual).

Sebelum memberikan kuis kepada siswa, guru akan menjelaskan bahwa kuis mandiri merupakan poin yang bisa dicapai siswa yang nantinya akan dijumlahkan. Jadi setiap kuis yang dilakukan siswa sangat bermakna bagi kesuksesan suatu grup untuk menang.

Poin Penghargaan Individual

Penghargaan sangat bermanfaat untuk motivasi siswa agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa untuk evaluasi belajar dari hasil sebelumnya. Poin akan dihitung berlandaskan pada nilai kuis.

Penghargaan Grup

Setiap grup akan diberi sebuah penghargaan bila bisa melampaui standar tertentu yang sudah ditetapkan. Penghargaan ditetapkan berdasarkan kebijakan bersama atau bisa hal lain sesuai inisiatif dan kreativitas guru.

Kelebihan dan Kekurangan

Seperti pada umumnya dari sebuah sistem, pasti ada sisi positif dan negatif. Begitu juga dengan pembelajaran STAD. Sisi kelebihan dan kekurangan pembelajaran ini berlandaskan pada pernyatan Slavin dalam Hartati (1997:21) yakni:

Kelebihan Pembelajaran STAD

Berikut merupakan keuntungan jangka pendek yang bisa didapat

    • Bisa meningkatkan hasil belajar siswa dan cakupan peningkatan bisa dilihat pada nilai kuis.
    • Siswa bisa memotivasi diri dalam belajar, sebab model pembelajaran STAD bisa menambah percaya diri siswa.
    • Salah satu pembelajaran kooperatif ini bisa membuat siswa luwes dalam bersosial dan meningkatkan hubungan setiap siswa dalam satu kelas.

Sementara untuk keuntungan atau kelebihan jangka panjang yang bisa diperoleh dalam model STAD adalah:

    • Menambah kehalusan perasaan dan bisa menjadi pribadi yang supel dalam bersosial.
    • Siswa bisa mengerti tentang arti perbedaan dan bisa mengelola perilaku, sikap, keterampilan, pengetahuan dan memaklumi sudut pandangan orang lain yang berbeda.
    • Siswa bisa cepat adaptasi dengan lingkungan baru.
    • Siswa memiliki sistem nilai (moral) yang tinggi tentang sosial dan perbedaan.
    • Siswa bisa mengurangi perilaku egois.
    • Persahabatan antar siswa akan terlahir dan berlanjut hingga masa depan.
    • Social skill siswa akan meningkat dan bisa membina jalinan persahabatan dengan baik.
    • Membuat siswa bisa memiliki rasa percaya terhadap sesama manusia.
    • Kemampuan menghadapi dan mengatasi masalah berkembang
    • Mampu menerima pendapat orang lain yang dirasa lebih bagus.
    • Siswa memiliki jiwa adil dalam memandang pertemanan dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan gender, sosial, kemampuan, suku dan agama.

Kekurangan Model STAD

Kekurangan ini didasarkan pada pendapat Slavin dan Hartati:

    • Jika guru lalai meminta siswa untuk selalu proaktif dan saling bekerja sama dalam grup, maka bisa menyebabkan kepasifan dalam kelas dan grup.
    • Pastikan bahwa grup memiliki 4 hingga 5 orang karena bila kurang dari 4 maka akan ada siswa yang bisa terabaikan dan bila lebih dari 5 maka akan ada siswa yang menganggur.
    • Jika ketua grup belum mampu menanggulangi masalah yang timbul dalam grup secara solutif, maka kerja grup akan tersendat.

Ada pula penjelasan lain dari kekurangan pembelajaran STAD, seperti yang dinukilkan Soewarso (1998:23) yakni pembelajaran kooperatif bukanlah sebuah solusi instan yang memungkinkan siswa untuk bisa belajar mandiri dan memecahkan masalah dalam grup kecil.

Namun dalam grup kecil juga bisa menimbulkan ketergantungan sehingga siswa yang malas akan bergantung pada yang proaktif.

Kesimpulan

Secara keseluruhan untuk mengatasi kekurangan model pembelajaran STAD, guru memberikan tugas kelompok yang berbeda untuk setiap individu.

Misalnya tugas untuk memahami bagian lain dari sebuah materi sehingga nantinya pada akhir sesi grup belajar, pertukaran informasi bisa terjadi.

Dengan cara tersebut siswa akan terlatih bertanggung jawab tentang tugas yang diemban.

Referensi

https://college.cengage.com/education/pbl/tc/coop.html
emmmie (11 July 2013). “The effectiveness of stad”

Ginanjar Adhi Anjar adalah penulis di tripven dengan spesialis marketing dan bahasa dalam pembelajaran.

One Reply to “Model Pembelajaran STAD”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *