Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Model Pembelajaran Kontekstual CTL (Contextual Teaching and Learning)

3 min read

Model Pembelajaran Kontekstual CTL (Contextual Teaching and Learning)

Kontekstualisasi sebuah pengetahuan dan informasi merupakan alat yang sangat penting agar kita bisa fleksibel, mudah beradaptasi dan bisa terhindar dari informasi bohong (hoax). Dalam hal ini pembelajaran kontekstual atau ctl merupakan salah satu pembelajaran yang bisa mengatasi hoax.

Pengertian

Pada awal artikel ini akan dijelaskan pengertian model pembelajaran kontekstual atau dalam bahasa Inggris bernama CTL (Contextual Teaching and Learning), adalah esensi dari proses pembelajarannya tidak hanya pasif untuk mencatat, duduk dan mendengarkan. Namun belajar merupakan cara untuk mengakuisisi ilmu pengetahuan secara aktif dan disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Sanjaya (2006).

Disamping itu pembahasan pembelajaran kontekstual ini membutuhkan strategi pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk aktif terlibat dalam pembelajaran. Dalam prosesnya siswa akan mencari materi dan memahami sendiri lalu mengaktualisasikan dengan lingkungan mereka hidup.

Pengertian lain dari kontekstual adalah pembelajaran ini memiliki dasar filosofi konstruktivisme, yakni teori belajar yang mengharuskan pembelajar tidak hanya mengingat namun juga bisa membuat (konstruksi) sebuah ilmu agar sejalan dan bermanfaat dengan kehidupan sehari-hari. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Muslich (2007).

Jadi pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang menekankan siswa untuk bisa aktif dalam belajar dan mengkoneksikannya materi dengan pengalaman hidup mereka di lingkungan sekitar. Arti lain dari CTL ini adalah pendekatan kontekstual

Selain itu pembelajaran kontekstual juga untuk mengakomodasi guru untuk mengkoneksikan setiap bahan belajar yang disampaikan dengan keadaan teraktual pada dunia siswa dan memotivasi siswa untuk menciptakan koneksi antar ilmu yang dipunyainya dengan implementasi di dunia nyata.

Langkah-Langkah atau Sintaks Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Langkah-Langkah atau Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual CTL

Dalam model pembelajaran kontekstual CTL (Contextual Teaching and Learning), terdapat langkah yang harus ditempuh, berikut uraiannya:

  1. Langkah pertama adalah Modeling yang mencakup pengutaraan kompetensi dan tujuan, bimbingan dan motivasi. Tanamkan pola pikir bahwa para siswa akan lebih memahami pelajaran dengan belajar secara mandiri, menemukan ilmu secara mandiri, mengkonstruksi gagasan secara mandiri.
  2. Berikutnya adalah Inquiry terdiri dari pengidentifikasian, analisis, observasi, hipotesis. Lakukan aktivitas inquiry untuk berbagai teori dan konsep.
  3. Questioning, langkah ini mencakup mengarahkan, eksplorasi, menuntun, evaluasi, inquiry dan generalisasi. Tanamkan karakter ingin tahu pada pembelajar dengan bertanya.
  4. Learning community, cakupan pada bagian ini adalah belajar kelompok, siswa diminta untuk bekerja sama, melaksanakan berbagai aktivitas dan penelitian.
  5. Constructivisme terdiri dari membuat pengertian secara mandiri, tesis-sintesis, konstruksi teori dan pemahaman.
  6. Reflection, pada bagian ini siswa diminta untuk mengulas dan merangkum materi pada sesi akhir pertemuan.
  7. Authentic Assessment ini merupakan proses akhir pembelajaran dimana siswa dinilai dan menilai secara objektif agar siswa bisa mewujudkan kompetensi yang telah disampaikan pada awal sesi.

Tujuan

  1. Dengan penerapan pembelajaran CTL ini siswa bisa terdorong untuk mengetahui hakikat dari sebuah bahan pelajaran yang diterima. Karena pelajaran yang diterima tidak jauh dari fakta yang ada di kehidupan mereka.
  2. Tujuan Model pembelajaran CTL adalah siswa akan aktif dalam pembelajaran karena dalam prosesnya pembelajaran ini tidak hanya duduk pasif mengingat, mencatat dan mendengar.
  3. CTL mengharuskan guru untuk bisa menumbuhkan minat siswa dalam belajar
  4. Pendekatan pembelajaran CTL memiliki tujuan agar siswa bisa berpikir kritis dan mandiri sehingga kedepannya mereka bisa memfilter dan memilih segala pengetahuan yang masuk.
  5. Tujuan Model pembelajaran CTL adalah melibatkan siswa untuk bisa mengkoneksikan pelajaran sekolah dengan konteks di kehidupan nyata.
  6. Siswa bisa lebih leluasa untuk menjelaskan segala data informasi yang rumit dan siswa juga bisa memahami sebuah informasi dengan baik.

Elemen Kontekstual

Terdapat beberapa elemen fundamental dalam pembelajaran kontekstual atau CTL berdasar pada Johnson (2000)

Melangsungkan hubungan yang berfaedah

Merupakan esensi model pembelajaran kontekstual CTL. Saat siswa bisa mengkoneksikan isi dari materi pelajaran, ilmu dan pengetahuan bahkan sejarah dengan lingkungan yang dihadapi siswa, mereka akan menganggap suatu pembelajaran tersebut sangat berarti. Ini bisa membantu siswa untuk bisa hidup baik akal maupun perasaan.

Memperoleh Standar yang Tinggi

Pendekatan kontekstual dirancang supaya siswa tumbuh dengan maksimal, bisa meraih kemampuan tertinggi. Pada dasarnya semua siswa memiliki potensi, andaikan guru bisa membimbing untuk menemukan kekuatan dan potensi siswa.

Belajar Secara Mandiri

Membuat komitmen belajar untuk diri sendiri adalah pembelajaran yang mandiri dan proaktif. Pembelajaran tersebut bisa memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengatur model belajar yang sesuai. Aktivitas belajar sendiri ini juga bisa mengkoneksikan masalah siswa dalam keseharian .

Melaksanakan Aktivitas yang Bermanfaat

Pembelajaran kontekstual ini mengharuskan untuk setiap metode pembelajaran yang dilaksanakan di ruang kelas harus memiliki makna untuk siswa, karena siswa bisa mengkoneksikan pelajaran akademik dengan pengalaman siswa sehari-hari.

Kolaborasi Antar Siswa

Guru membimbing siswa untuk aktif dalam grup belajar, menolong siswa ketika membuat grup belajar, membantu setiap siswa dalam memahami bagaimana saling menghormati dan komunikasi.

Memakai Penilaian yang Orisinal

Penilaian orisinal menuntut siswa untuk mempraktekan keterampilan dan pengetahuan akademik dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan masalah. Penilaian orisinal adalah lawan dari ujian pada umumnya, penilaian orisinal menuntut siswa untuk membuktikan kebolehan terbaik mereka setelah.

Membimbing Kepribadian Siswa

Dalam penerapan model kontekstual siswa tidak hanya bisa meningkatkan keahlian nalar dan intelektualnya, namun juga bisa meningkatan dimensi kepribadiannya yakni sikap, motivasi, integritas, disiplin dll. Dalam pembelajaran CTL ini guru dituntut untuk bisa membimbing siswa dalam aktivitas siswa dalam mencari bakat minat sesuai dengan kemampuannya.

Berpikir Kritis dan Kreatif

Pendekatan pembelajaran CTL atau kontekstual bermanfaat untuk meningkatkan keahlian siswa dalam berpikir level tinggi yaitu analitis, kritis dan kreatif. Berpikir secara kreatif merupakan suatu aktivitas mental untuk meningkatkan rasa, perasaan, kemurnian, pemahaman dan ketajaman dalam membuat karya. Sedangkan berpikir kritis yaitu ketangkasan akal dalam bernalar secara teratur, disiplin dan sistematis untuk mendapatkan solusi, menganalisis dan mengambil keputusan.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

  1. Membuat siswa bisa menemukan potensi terbaik yang dimilikinya.
  2. Dalam kerjasama antar grup, siswa bisa bertindak dengan efektif.
  3. Siswa memiliki daya untuk berpikir kreatif dan kritis dalam memperoleh informasi, bisa bijaksana dalam memahami isu dan bisa memperoleh solusi atas masalah-masalah yang ada.
  4. Peserta didik bisa mengetahui manfaat tentang apa yang mereka pelajari.
  5. Siswa tidak tergantung dengan guru dalam memperoleh berbagai informasi.
  6. Anak didik akan merasa nyaman dan senang dalam setiap pembelajaran.

Kekurangan

  1. Guru akan kewalahan dalam memutuskan materi pelajaran karena pembelajaran CTL menekankan pada kebutuhan setiap siswa, sedangkan kemampuan siswa dalam satu kelas tidaklah sama.
  2. Pembelajaran CTL ini lebih cenderung untuk mengembangkan soft skill siswa sehingga siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi tetapi susah untuk mengungkapkannya maka akan kewalahan.
  3. Ketika pembelajaran ini diterapkan kemampuan siswa akan terlihat jelas, mana yang memiliki kemampuan dan mana yang tidak. Sehingga akan timbul kesenjangan.
  4. Interpretasi siswa akan berbeda-beda pada setiap pembelajaran yang disediakan.
  5. Pada kenyataanya tidak semua siswa bisa adaptasi dan menemukan potensi yang ada pada diri mereka.
  6. Pembelajaran kontekstual ini sangat tidak irit waktu.
  7. Karena siswa dituntut untuk proaktif dalam mencari fakta dan ilmu pengetahuan sendiri, peran guru akan semakin kurang dalam proses pembelajaran CTL.

Kesimpulan

Dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual ini siswa akan belajar secara aktif dan guru akan berposisi sebagai mediator dan pembimbing. Impak yang paling terasa pada implementasi pembelajaran ini adalah siswa pada masa yang akan datang, bisa menjadi pribadi fleksibel untuk bisa menyelesaikan berbagai permasalahan. Permasalahan yang ada bisa mudah diidentifikasi sehingga mereka bisa menyelesaikannya sesuai dengan konteksnya.

Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *