Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Model Pembelajaran Think Pair Share

3 min read

Model Pembelajaran Think Pair Share

Pembelajaran think pair share bila diterjemahkan berarti berpikir berpasangan berbagi adalah metode belajar yang didesain untuk siswa agar mereka bisa terdorong ke dalam alur interaksi dan komunikasi.

Thinking pair share (TPS) ini awal mulanya dikenalkan oleh Frank Lyman bertujuan agar diskusi mempunyai berbagai macam variasi yang tidak monoton dan bisa berkembang menjadi lebih kreatif. Lebih ringkasnya adalah agar siswa tidak bosan ketika diskusi berlangsung.

Ini dikarenakan setiap diskusi memerlukan rencana yang sistematis dan bisa lebih berkembang. Sehingga saat think pair share digunakan siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi saling berpikir dan membantu satu dengan yang lain dalam mengatasi masalah dalam materi pembelajaran.

Manfaat Model Pembelajaran Think Pair Share

Berikut merupakan beberapa manfaat dari pembelajaran ini berdasarkan pada Kagan dalam (Atik Widarti: 2007):

  • Siswa bisa memanfaatkan waktu untuk membuat tugas yang telah diberikan dan juga bisa saling berinteraksi lebih lama dalam berdiskusi. Sehingga secara tidak langsung akan memberikan penguatan terhadap materi dan kualitas pembelajaran bisa meningkat.
  • Guru juga bisa memanfaatkan waktu lebih lama untuk merencanakan hal lain saat memakai think pair share. Guru bisa lebih fokus untuk memperhatikan setiap siswa dan bisa memberikan pertanyaan yang berkualitas.

Dan kali ini merupakan kegunaan dalam rangka meningkatkan belajar saat memakai think pair share, pendapat ini dikemukakan oleh Fogarty dan Robin (1996):

  • Pembelajaran ini bisa diandalkan pada kelas yang besar.
  • Siswa bisa mempunyai kesempatan waktu yang panjang untuk membahas dan mengulang materi.
  • Siswa bisa terbiasa untuk mengutarakan opini kepada orang lain baik itu individu dan grup.

Berdasarkan apa yang telah diutarakan oleh Fogarty dan Robin, dengan menggunakan think pair share siswa bisa terbiasa dalam berinteraksi dan berpikir secara bersama baik dengan antar personal maupun grup.

Hal tersebut bisa menguatkan kekuatan kognitif siswa ke dalam level yang lebih tinggi dalam memproses pembelajaran sehingga mereka bisa membuat jawaban dan pertanyaan yang berkualitas saat berdiskusi.

Karakteristik Pembelajaran

Terdapat tiga tahapan atau karakteristik dalam pembelajaran think pair share, seperti namanya yang terdiri tiga kata yakni think (berpikir secara mandiri), pair (berpasangan) dan share (berbagi dalam segala hal termasuk pengetahuan ke satu individu atau grup belajar). Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

Think (Berpikir)

Pada sesi ini pengajar menyampaikan sebuah pertanyaan ke siswa. Dan siswa mempunyai kesempatan 3 hingga 5 menit untuk bisa menyiapkan jawaban secara individu.

Kekuatan pada sesi ini adalah siswa bisa mempunyai waktu untuk berpikir untuk menentukan jawaban secara mandiri.

Pair (Berpasangan)

Guru akan menginstruksikan ke siswa untuk membuat grup belajar yang terdiri dari dua pasangan bebas, tapi lebih diutamakan teman satu bangku. Selanjutnya siswa akan melakukan diskusi dengan pasangan. Pada proses diskusi pasti akan terjadi penyatuan opini dan pendapat tentang pikiran mereka. Proses ini berjalan dengan waktu 6 hingga 8 menit.

Share (Berbagi)

Saat sesi ini guru menginstruksikan siswa untuk mempresentasikan/membagikan hasil diskusi grup kepada teman satu kelas. Membagikan pikiran atau hasil tugas tersebut dilakukan di kelas agar setiap siswa bisa tahu dan akan terjadi sintesis. Tugas guru disini adalah dengan membimbing setiap jawaban yang dirasa kurang tepat.

Sesi ini adalah langkah tuntas dari sesi di atas. Karena sesi ini bisa membuat setiap grup belajar bisa lebih memahami setiap pendapat dari sebuah materi. Ini juga bisa mendorong lebih menguasai setiap apa yang dikatakan guru ketika meluruskan jawaban yang kurang tepat.

Langkah-Langkah atau Sintaks Think Pair Share

Pembelajaran yang merupakan salah satu dari model kooperatif ini memiliki lima sesi umum dengan tiga sesi utama yang merupakan dasar dari pembelajaran yakni think, pair dan share.

Sesi belajar mengajar yang spesifik dan detail bisa dilihat dengan jelas pada gambar di bawah ini.

Langkah-Langkah atau Sintaks Think Pair Share

Langkah Pendahuluan

Pada langkah pertama pada saat awal pembelajaran, guru harus bisa mendorong siswa agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan.

Pada langkah ini guru mempresentasikan materi dan aturan dari think pair share serta memberikan arahan waktu pada setiap sesi aktivitas model pembelajaran think pair share.

Langkah Think (Berpikir mandiri)

Tanda aktivitas pembelajaran think pair share sudah dilaksanakan adalah ketika guru mempresentasikan materi kepada siswa. Pada langkah ini, siswa akan diberi kesempatan waktu untuk berpikir (“think time”).

Dimana waktu tersebut dimanfaatkan untuk menjawab segala pertanyaan yang diberikan secara mandiri. Pada tahap ini guru juga harus memahami kemampuan siswa sebelum memberikan pertanyaan.

Langkah Pair (Berpasangan)

Pada langkah ini, guru akan membuat grup belajar berpasangan. Guru memberikan arahan bahwa pembuatan grup belajar harus teman sebangku.

Ini agar pembelajaran bisa lebih efisien dan efektif. Selanjutnya siswa akan melakukan diskusi tentang materi, persoalan dan mendapatkan jawaban setelah apa yang telah diutarakan oleh guru.

Langkah Share (Berbagai)

Pada tahap ini siswa akan mengutarakan jawabanya di depan kelas, ini bisa dilakukan secara individu atau dengan grup. Setiap siswa akan mendapatkan nilai sesuai dengan hasil pemikiran yang telah mereka utarakan.

Langkah Penghargaan

Pada langkah ini siswa akan memperoleh apresiasi bisa berbentuk nilai. Ini harus berdasarkan pada apa yang telah mereka utarakan dari hasil diskusi.

Penilaian juga bisa bersandar dari aktivitas individu dan grup. Lebih utama lagi saat guru bisa menilai dari cara siswa menyampaikan presentasi di depan kelas.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan Think Pair Share

  • Peserta didik bisa lebih proaktif dalam aktivitas pembelajaran.
  • Rasa tanggung jawab siswa bisa terbangun, seperti saat menjawab dan mengutarakan sebuah pertanyaan.
  • Hubungan antar siswa bisa terbangun.
  • Cepat dalam membuat grup belajar karena hanya terdiri dari dua individu atau berpasangan.
  • Rasa percaya diri siswa terbangun. Karena mereka dilatih berbicara di depan kelas.

Kelemahan Think Pair Share

  • Guru memerlukan fokus yang ekstra karena grup belajar sangat banyak.
  • Gagasan yang dihasilkan tiap grup akan lebih terbatas karena dalam grup hanya berdua.
  • Bila terdapat siswa yang terlalu bergantung pada pasangan.
  • Bila dalam tahap diskusi terdapat masalah tidak ada yang menengahi.

Kesimpulan

Latar belakang dari think pair share merupakan dari teori belajar konstruktivistik. Dimana disebutkan pada teori ini bahwa peserta didik dituntut untuk bisa membuat dan merubah sebuah data yang rumit dan memverifikasi data baru bila data tersebut sudah tidak sesuai dengan kondisi yang ada.

Agar siswa bisa memahami sebuah materi secara mendalam maka mereka dituntut untuk bisa membuat teori sendiri tentang sebuah informasi atau data yang telah diserapnya.

Berdasarkan teori konstruktivisme, siswa harus aktif dan bisa mengembangkan segala potensi yang dimiliki secara maksimal.

Sedangkan guru bertugas menjadi pembimbing agar segala penemuan dan cipta siswa bis terarah. Sehingga apa yang mereka temukan dan dapatkan bisa lebih bertanggung jawab.

Harisah Anis Penulis di Tripven. Sangat menyukai Sejarah dan saat ini sedang menjalani Pendidikan di UMP Purwokerto.

Pendidikan 4.0

Ginanjar Adhi
3 min read

Pendidikan Inklusif

Harisah Anis
3 min read

Hakikat Pendidikan

Bektio Pamungkas
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *