Ginanjar Adhi Anjar adalah penulis di tripven dengan spesialis marketing dan bahasa dalam pembelajaran.

Discovery Learning

7 min read

Model Pembelajaran Discovery Learning

Pada sesi ini kita akan menjabarkan mengenai pembelajaran discovery learning atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pembelajaran penemuan, di mana aktivitas pembelajaran akan dipresentasikan kepada siswa secara langsung namun siswa dituntut untuk bisa memahami materi secara mandiri dengan menggunakan metode tertentu.

Dalam memahami sebuah materi siswa bisa melaksanakan pendekatan saintifik yang di antaranya adalah mengamati, observasi, pengklasifikasian, menciptakan asumsi, menjabarkan, dan membuat kesimpulan. Sehingga materi bisa ditemukan menjadi sebuah teori atau konsep prinsip yang bisa dipahami.

Pengertian

Model pembelajaran discovery learning ini merupakan pembelajaran yang disampaikan kepada siswa dan siswa akan memahaminya secara independen. Dalam hal ini siswa akan diberi kemampuan cara menjadi seorang ilmuwan.

Mendorong siswa untuk membangun pengalaman dan pengetahuan dengan memakai intuisi, imajinasi dan kreativitas kemudian mencari informasi baru untuk menemukan fakta, keterhubungan dan kebenaran baru.

Belajar tidak sama dengan menyerap apa yang dijelaskan dan dibaca namun belajar adalah aktif dalam mencari jawaban dan solusi.

Memungkinkan siswa untuk mengajukan pertanyaan kritis, melaksanakan penelitian secara mandiri, meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan membentuk kesimpulan secara independen.

Dengan pembelajaran ini siswa tidak hanya berperan pasif menerima materi pelajaran. Namun juga memprosesnya sampai memahami dan menguasai yang biasa disebut sebagai pembelajaran aktif. Sehingga siswa bisa terbiasa untuk menciptakan (menemukan) sebuah ilmu pengetahuan.

Menurut Para Ahli

Agar pemahaman tentang pembelajaran discovery learning bisa lebih dalam dan akurat berikut beberapa pengertian menurut para ahli dan beberapa referensi buku:

    • Berdasarkan Sund, Discovery learning merupakan aktivitas intelektual siswa di mana mereka mampu menguraikan sebuah prinsip atau konsep. Aktivitas intelektual diantaranya adalah mengobservasi, memahami, mampu mengklasifikasikan, menciptakan asumsi, menjabarkan, menakar, menciptakan kesimpulan (Suryabrata, 2002:193).
    • Berlandaskan Hosnan (2014:282), discovery learning adalah model pengembangan kemampuan belajar aktif pada siswa agar bisa investigasi dan mendapatkan ilmu secara mandiri. Dengan belajar aktif ini siswa juga bisa dilatih berpikir secara analisis dan problem solving sehingga ilmu pengetahuan bisa bertahan lama dalam diri siswa.
    • Berdasarkan Ruseffendi (2006:329), Model pembelajaran discovery learning merupakan model yang mengelola pembelajaran yang bisa membuat siswa mendapatkan ilmu pengetahuan secara mandiri dan belum diketahui oleh dirinya.
    • Berlandaskan Kurniasih, dkk (2014:64), discovery learning adalah aktivitas pembelajaran di mana materi disampaikan secara langsung kepada siswa. Selanjutnya siswa dianjurkan untuk mengelola materi tersebut secara mandiri. Di mana mereka harus bisa menemukan konsep berdasarkan data atau informasi dengan cara penelitian.

Peran Siswa

Apa yang dilakukan siswa dalam discovery learning?

    1. Siswa akan meneliti informasi
    2. Memanipulasi objek
    3. Melaksanakan percobaan (eksperimen)
    4. Melakukan diskusi atau debat
    5. Melihat sudut pandang lain
    6. Menanyakan sebuah pertanyaan yang lebih dalam dan luas
    7. Mendiskusikan gagasan-gagasan pengetahuan yang telah didapatkan dengan guru.

Peran Guru

Perlu diketahui bahwa pengajaran discovery learning membutuhkan peranan guru. Tugas guru pada pembelajaran ini di antaranya adalah:

    1. Memberikan tugas secara terbimbing dengan memanfaatkan berbagai teknik instruksional.
    2. Siswa dituntut untuk bisa menjabarkan gagasan mereka, kemudian guru akan mengomentari (feedback) dan menilai gagasan tersebut.
    3. Guru bisa memberikan contoh cara dan bagaimana sebuah tugas atau pertanyaan diselesaikan.

Aspek penentu kesuksesan pembelajaran discovery learning adalah keterlibatan guru. Senada dengan pernyataan Bruner (1961), bahwa sebuah penemuan (discovery) tidak akan terjadi tanpa pengetahuan dasar (logika, hitungan, bahasa dsb). Sementara Mayar (2004) menyatakan bahwa penemuan tanpa pendukung lain harus dihilangkan, karena kurangnya pendukung akan memperlemah hasil penemuan. Selain itu pembelajaran discovery tanpa bimbingan dan peran guru akan menyebabkan siswa frustasi dan bingung.

Maka dari itu, peran guru pada pembelajaran discovery sangat krusial untuk kesuksesan hasil pembelajaran. Siswa dituntut untuk bisa membangun pengetahuan dasar dengan cara latihan, umpan balik, dan contoh. Pengetahuan dasar bisa menjadi pondasi siswa untuk integrasi informasi dan membangun keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Jenis dan Bentuk Discovery Learning

Berdasarkan Suprihatiningrum (2014:244), Discovery learning ada dua bentuk dalam implementasinya, yakni:

  1. Guided Discovery Learning atau pembelajaran penemuan terbimbing, yaitu bentuk yang memerlukan arahan guru sebagai penyedia dalam aktivitas pembelajaran.
  2. Free Discovery Learning atau pembelajaran penemuan bebas, yaitu bentuk yang bebas di mana siswa harus bisa berperan aktif secara mandiri dan tidak memerlukan fasilitator seperti guru.

Selain itu model pembelajaran discovery learning juga bisa dilakukan dengan hubungan dua arah dan satu arah. Penjabaran lebih lanjut bisa berlandaskan pada (Oemar Hamalik, 2009:187) yakni:

  1. Hubungan dua arah adalah di mana siswa harus bisa berkomunikasi dengan guru seperti menjawab pertanyaan. Lalu guru melakukan komunikasi dengan siswa dengan cara panduan secara baik.
  2. Hubungan satu arah adalah siswa akan diberi stimulus agar mereka bisa melaksanakan penemuan. Di mana guru akan memberikan sebuah masalah kepada siswa, dan mereka akan membuat solusi dengan metode penemuan.

Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning

Model discovery learning memiliki karakteristik berupa eksplorasi dan membuat solusi agar siswa bisa menciptakan, memadukan dan mengumumkan sebuah pengetahuan. Berfokus pada peserta didik. Aktivitas untuk memadukan ilmu pengetahuan baru dan lama.

Penyelesaian masalah. Guru membimbing dan mendorong siswa untuk bisa mencari solusi dengan cara memadukan informasi yang sudah ada dengan informasi baru serta menjelaskan cara menyederhanakan sebuah pengetahuan.

Manajemen Pelajar. Guru mengizinkan siswa untuk bekerja secara mandiri atau bersama siswa atau orang lain. Dengan fleksibilitas ini membuat pembelajaran bisa lebih dinamis, karena dengan siswa belajar secara bebas membuat mereka terhindar dari stres yang tidak perlu dan mereka merasa belajar secara mandiri.

Mengintegrasikan dan Menghubungkan. Guru akan mengajari siswa cara mengintegrasikan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru. Selain itu guru juga bisa membuat sebuah pengetahuan terhubung dengan dunia nyata, caranya bisa dengan memberikan contoh.

Pengetahuan lama dan sudah dikenal akan menjadi dasar dari informasi baru, sehingga saat pengetahuan lama dan informasi baru terintegrasi maka wawasan siswa akan menjadi luas dan akan menemukan sesuatu yang baru.

Analisis dan Interpretasi Informasi. Pembelajaran akan berfokus pada proses bukan pada isi atau hasil, karena pembelajaran bukanlah sekumpulan fakta dan informasi. Ini menjadikan siswa untuk didorong untuk bisa menganalisis dan menafsirkan (menerjemahkan) informasi yang diperoleh daripada menghafal jawaban atau informasi.

Kegagalan dan Umpan Balik. Belajar tidak hanya ketika kita menemukan jawaban yang benar, namun belajar juga ketika kita mendapatkan sebuah kegagalan. Pembelajaran discovery ini tidak berorientasi pada hasil akhir yang tetap namun lebih pada hal-hal baru yang ditemukan pada prosesnya.

Maka dari itu menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan penjelasan (umpan balik), karena tanpa penjelasan tersebut pembelajaran akan menjadi buntu dan tidak lengkap.

Baca juga: Tujuan Pembelajaran

Manfaat

Pada sebuah penelitian, pembelajaran discovery bisa membuat tingkat retensi siswa pada sebuah materi atau pengetahuan meningkat, informasi bisa bertahan hingga enam minggu sesudah penjabaran sebuah materi atau pengetahuan.

Selain itu pembelajaran berbasis penemuan atau discovery learning ini adalah pengembangan pikiran yang bisa meningkatkan potensi siswa sehingga bisa bermanfaat sepanjang hayat.

Pembelajaran ini bisa meningkatkan daya eksplorasi dan kolaborasi antar siswa dan guru dalam memecahkan sebuah masalah.

Langkah-langkah atau Sintaks Discovery Learning

Perisapan

Sebelum menuju langkah yang sesungguhnya berikut adalah persiapan Discovery Learning, agar bisa berjalan maksimal (Hosnan, 2014: 289).

    1. Memutuskan tujuan pembelajaran apa yang akan dipelajari
    2. Melaksanakan pengamatan untuk mengetahui sifat siswa mulai dari cara belajar, bakat dan minat.
    3. Menetapkan materi yang akan digunakan.
    4. Menetapkan materi apa saja yang akan dipelajari siswa untuk meningkatkan keterampilan induktif beserta contoh dalam melakukan generalisasi.
    5. Pengembangan bahan ajar dengan cara memberikan gambaran, ilustrasi dan contoh untuk diamati siswa.
    6. Mengkategorikan materi ajar untuk siswa dari yang mudah hingga yang paling susah, konkret hingga abstrak dsb.
    7. Melaksanakan asesmen pada proses dan hasil yang didapatkan siswa dalam pembelajaran.

Prosedur Implementasi Strategi Discovery Learning

Terdapat dua pilihan langkah discovery learning di antaranya adalah:

Opsi 1

Berdasarkan penuturan Hosnan 2014: 289, terdapat langkah umum yang harus dilakukan pada strategi pembelajaran penemuan ini, di antaranya adalah:

Identifikasi Masalah (Problem statement)

Pada sesi awal ini siswa akan diberi tugas untuk identifikasi masalah sesuai dengan pelajaran yang telah ditetapkan, selanjutnya siswa akan melakukan hipotesis dengan menjawab pertanyaan dari masalah.

Stimulasi (Stimulation)

Guru akan melakukan stimulasi atau rangsangan kepada siswa, untuk mengetahui apakah siswa sudah paham betul dengan apa yang sedang dilakukannya. Caranya bisa dengan mengajukan pertanyaan terkait masalah agar mereka bisa berinisiatif untuk melakukan observasi mandiri.

Penghimpunan Data (Data collection)

Bagian ini merupakan proses siswa untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan benar atau tidak, caranya bisa dengan melakukan penghimpunan data. Cara penghimpunan data sendiri terdiri dari membaca penelitian terdahulu & literatur, observasi, wawancara narasumber, melaksanakan uji coba mandiri dsb.

Mengolah Data (Data processing)

Pada sesi ini adalah cara siswa untuk mengolah data yang telah diperoleh dari penghimpunan data. Metode pengolahan data sendiri ada berbagai cara, untuk pelajar yang masih dibangku SMA-SMP-SD bisa dengan cara sederhana seperti, pengkategorian, penghitungan, pengacakan dan tabulasi

Verifikasi (Verification)

Pada sesi ini siswa akan melaksanakan pembuktian data, siswa akan melaksanakan penelitian secara teliti agar diketahui apakah hipotesis yang diajukan benar atau tidak.

Kesimpulan (Generalization)

Melakukan kesimpulan adalah ketika sebuah data menunjukan gejala yang sama dalam hal ini dinamakan dengan generalisasi dengan cara melakukan induksi. Tentu dasarnya adalah Verification.

Opsi 2

Berdasarkan penuturan Veerman (2003) secara singkat dan rinci langkah-langkah model pembelajaran discovery learning adalah apa yang akan kami jelaskan di bawah, berikut diantaranya:

Orientation 

Pada sesi awal ini yakni orientation, siswa akan dituntut untuk bisa memperhatikan informasi dari mulai latar belakang, pengenalan masalah dan kejadian, mengaitkan kejadian dengan pengetahuan lama. Sintaks atau langkah orientation akan membuat kekuatan tafsir, analisis dan evaluasi akan berkembang sehingga siswa bisa berpikir kritis.

Pada sesi ini guru akan memberi materi sesuai dengan kejadian nyata dan nantinya siswa akan dipusatkan untuk mempelajari materi dan permasalahannya. Kejadian yang dipresentasikan membuat siswa bisa mudah untuk dinilai.

Hypothesis Generation 

Data tentang kejadian yang diperoleh pada sesi orientation akan dipakai pada sesi ini, yakni hypothesis generation.

Pada sintaks ini siswa akan membuat hipotesis yang berhubungan dengan masalah. Siswa akan memformulasikan masalah yang ada dan menemukan tujuan dari proses pembelajaran.

Manfaat dari langkah hypothesis generation adalah mengembangkan keahlian siswa dalam analisis, tafsir, evaluasi dan deduksi (mengambil kesimpulan).

Hypothesis Testing 

Hypothesis merupakan output dari langkah kedua yakni hypothesis generation. Yang mana keabsahannya kurang dipercaya sehingga dalam melakukan pembuktian siswa dituntut untk melakukan sesi ini yakni hypothesis testing.

Pada langkah ini siswa dituntut untuk bisa membuat strategi dan melakukan penelitian agar keabsahan hipotesis yang telah diformulasikan, dihimpun datanya dan menghubungkan hasil dari eksperimen menjadi terbukti.

Pada sintaks atau tahap ini siswa akan didorong untuk bisa mengembangkan keahlian dalam mengatur diri, evaluasi, analisis, menafsirkan dan mengungkapkan suatu konsep abstrak maupun konkret.

Conclusion 

Aktivitas siswa pada sesi conclusion adalah mengulas kembali hipotesis yang sudah diformulasikan dengan fakta yang sudah didapat dari Hypothesis Testing.

Siswa akan menentukan apakah fakta yang telah diuji dari hypothesis testing sesuai dengan yang sudah diformulasikan. Pada sesi conclusion ini siswa bisa membuat perubahan hipotesis lama dengan yang baru.

Pada sintaks atau langkah conclusion ini, siswa akan menjadi lebih berkembang dalam keterampilan menyimpulan, menganalisis, menafsirkan, evaluasi dan menjabarkan.

Regulation 

Pada sesi regulation ini siswa akan melakukan aktivitas berupa menyusun strategi, memeriksa dan evaluasi. Penyusunan strategi mengaitkan antara aktivitas memutuskan tujuan dan metode untuk meraih tujuan tersebut.

Aktivitas memeriksa atau mentoring adalah aktivitas yang mana untuk memahami kebenaran dari action yang dilakukan siswa yang berhubungan dengan hasil yang telah disusun strateginya.

Guru akan memverifikasi hasil yang ada sehingga konsep bisa sesuai dengan aktivitas pembelajaran. Sintaks atau langkah regulation akan membuat siswa menjadi lebih mampu untuk mengevaluasi, dan mengatur diri serta bisa menganalisis, menjabarkan, menafsirkan dan menyimpulkan.

Cermati juga: Pembelajaran Abad 21

Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning 

Berdasarkan penuturan Suherman, dkk (2001:179) menyatakan bahwa terdapat keunggulan atau kelebihan yang bisa diambil dari model discovery learning, yakni:

Kelebihan

    • Dalam aktivitas belajar siswa akan aktif, ini dikarenakan mereka akan menyelesaikan permasalahan atau menemukan pengetahuan secara mandiri.
    • Dengan model discovery learning siswa akan menguasai pelajaran secara mendalam. Ini dikarenakan siswa mencerna dan menemukan sendiri ilmu pengetahuan itu sehingga bisa lebih bertahan lama dalam ingatannya.
    • Dengan memahami dan menemukan secara mandiri akan memicu rasa puas. Rasa puas tersebut akan memotivasi siswa untuk memahami dan menemukan lagi. Ini menjadikan minat belajar (motivasi) akan berkembang.
    • Siswa yang mendapatkan ilmu pengetahuan dengan discovery learning akan lebih sanggup membagi ilmu pengetahuannya di berbagai aspek.
    • Dengan metode discovery learning in siswa akan terlatih untuk bisa belajar secara mandiri.

Kekurangan

Sementara berdasarkan penuturan  Kurniasih, dkk (2014:64-65), terdapat beberapa kekurangan kelemahan dari Discovery Learning, berikut diantaranya:

    • Model ini akan memicu sebuah anggapan setiap pikiran pasti sudah siap untuk belajar. Namun untuk siswa yang lemah, mereka akan mendapati kesukaran dalam berpikir abstrak atau menjabarkan sebuah pengetahuan melalui tulisan maupun ucapan sehingga siswa tersebut bisa terkuras mentalnya.
    • Dalam prakteknya model discovery learning kurang bisa mengcover jumlah siswa yang jumlahnya banyak. Ini disebabkan akan memakan waktu yang relatif tidak sedikit.
    • Esensi dalam model discovery learning akan tidak tersampaikan jika digunakan pada pola pikir guru dan murid yang sudah nyaman dengan metode lama. Jadi gunakan metode penemuan ini dengan cara bertahap.
    • Pembelajaran discovery lebih efektif bila digunakan untuk membangkitkan penguasaan dan pemahaman, namun dalam membangkitkan komponen keterampilan, konsep dan emosi pembelajaran ini kurang bisa memfasilitasi.
    • Materi yang ditentukan oleh guru dalam model pembelajaran ini mengakibatkan siswa tidak bisa memilih apa yang diinginkan dalam pembelajaran.

Kesimpulan

Secara garis besar esensi dari model pembelajaran discovery learning merupakan aktivitas siswa untuk memahami maksud, arti, konsep dan mengkoneksikan sesuatu dengan merangsang intuitifnya agar mereka bisa mengambil sebuah kesimpulan.

Model pembelajaran ini akan berhasil apabila siswa bisa terdorong untuk mau memakai mental atau semangatnya untuk menemukan sebuah teori, prinsip dan konsep.

Pembelajaran discovery dilaksanakan dengan cara observasi, kategorisasi, penilaian, prediksi, pemilihan dan deduksi/menyimpulkan. Proses tersebut bisa juga dinamakan proses kognitif sedangkan maksud dari aktivitas discovery adalah proses mental untuk mengasimilasi konsep dan prinsip dalam pikiran.

Ginanjar Adhi Anjar adalah penulis di tripven dengan spesialis marketing dan bahasa dalam pembelajaran.

Hakikat Pendidikan

Bektio Pamungkas
2 min read

Suku Kata

Bektio Pamungkas
1 min read

One Reply to “Discovery Learning”

  1. sy sangat senang membaca tulisan Harisah Anis
    sangat bermanfaat bagi para pengajar. ditunggu tulisan berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *